UJIAN ATAU AZAB KETIKA PERMASALAHAN TERHIDANG
(disampaikan pada Kultum 18 Mei 2012)
Ada sebuah kepastian di dunia ini selain datangnya kematian, yaitu bahwa Allah, yang Maharahman Maharahim tidak akan menganiaya seseorang, melainkan karena perbuatannyalah yang menyebabkannya menjadi terhukum. Tidak ada yang menyusahkan seseorang, kecuali dirinya sendiri yang membuat susah. Hanya kebanyakan tidak menyadarinya dan mencari sebab kesusahan dari luar dirinya.
“Apakah belum datang kepada mereka berita tentang orang-orang sebelum mereka, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan negri-negri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul yang membawa keterangan-keterangan. Maka, tidaklah Allah sekali-kali menganiaya diri mereka sendiri.”(QS Taubah [9]:70)
Tidak ada kesusahan tanpa alasan mengapa kesusahan itu bisa timbul. Manusia tidak akan bisa lari dari segala perbuatannya. Rumusannya sederhana saja, perbuatan baik akan digelari kebaikan, perbuatan buruk akan dipentaskan keburukan. Ibarat emas yang digadaikan, perbuatan manusia ‘digantung’ dengan segala tingkah lakunya.
”Setiap diri tergadai dengan apa yang diperbuatnya.”(QS Al Muddatsir [74]:38)
Ibarat mengganggu anjing, kita akan dikejar tiada henti hingga kita terhenti berdiam diri; terkejar atau sang anjing sendiri yang berhenti mengejar. Begitu pula perbuatan dosa. Ia akan mengejar kemanapun kita berlari. Pengejarannya bisa berupa kesusahan, kesialan atau hilang berkah hingga kemudian kematian mengistirahatkan sejenak perbuatan dosa sebelum ia berlanjut kembali!
“Mereka akan diikuti oleh kejahatan yang mereka lakukan. Orang-orang zalim di antara mereka akan ditimpa balasan terhadap apa yang mereka kerjakan dan mereka tidak dapat melepaskan diri. ”(QS Az-Zumar [39]:51)
Ibarat dikejar anjing yang juga bisa dihentikan oleh pemilik anjingnya, pengejaran akibat buruk perbuatan buruk juga bisa dihentikan oleh Yang Maha Menghentikan, bahkan sejak di dunia ini. Yaitu dengan menghentikan pertobatan dan menghentikan langkah kemaksiatan.
Pada diri kita sebenarnya banyak tanda-tanda dan peringatan berupa musibah dan bencana (di samping tanda-tanda dan peringatan berbentuk kebaikan) yang Allah timpakan agar kita ingat akan kerinduan dan rahmat-Nya kembali;
“Dan tiadalah datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda Tuhannya, melainkan mereka berpaling dari padanya.”(QS Yasin [36]:46)
Namun, kita tidak paham akan tanda-tanda itu. Walhasil, kejadian kehidupan tetaplah kejadian, seolah terjadi biasa saja tanpa makna.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami pada segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa sesungguhnya Dialah Yang Hak (Yang Mahabenar). Tidaklah cukup bahwasanya Tuhanmu melihat segala sesuatu. ”(QS Fushilat [41]:53)
Itulah kita, manusia. Ketika menghadapi masalah, dengan begitu yakin kita mengatakan sedang diuji oleh Allah. Hal ini kadang berlaku dihampir setiap keadaan. Misalnya ketika kehilangan barang, uang, atau ketika sakit. Namun, pernahkah kita berfikir lebih jauh dari sekedar menganggapnya ujian, yaitu jangan-jangan ia azab? Sebab, bisa jadi hal yang sedang kita hadapi bukanlah ujian, melainkan azab.
Allah memberikan ujian untuk mengukur kadar keimanan seseorang. Saudara jika seseorang sudah diketahui dengan jelas bahwa dia adalah pembangkang, tentu tidak perlu lagi diukur kadar keimanannya. Karena sudah jelas pembangkang, ia tinggal diberi hukuman saja. Begitulah kira-kira.
Demikianlah. Di antara penyebab kesusahan dan penderitaan adalah tidak lagi mengindahkan peraturan Allah. Ketidak tenangan dan kegelisahan begitu mudah datang memperkeruh suasana batin karena hati sudah berkarat. Karat dengan dosa dan maksiat. Jadi, ketika kita merasa susah, sedangkan kita tahu bahwa diri kita saat itu memang penuh dengan dosa dan maksiat, seharusnya saat itu juga kita sudah tahu bahwa nuansa kesusahan yang sedang kita hadapi bukanlah ujian, melainkan azab. Namun kita adalah manusia, manusia yang sulit untuk sadar. Perlu mengkususkan diri untuk bermuasabah (atau dimuasabahi ?). Mudah-mudahan, dengan jalan memuasabahkan diri, kita menemukan jalan tobat yang bisa menghantarkan kita kepada keadaan yang dirahmati Allah.
Sumber : Susah Itu Mudah ; Yusuf Mansur
|






![]() | Today | 6 |
![]() | Yesterday | 41 |
![]() | This week | 47 |
![]() | Last week | 308 |
![]() | This month | 927 |
![]() | Last month | 1425 |
![]() | All days | 5429 |
Your IP: 38.107.179.211
,
Today: May 21, 2012









